by Novi Nadya | 18 Aug 2026
Empat tahun berjalan, The Langham Fashion Soirée telah menjadi salah satu agenda fashion yang dinanti para fashion enthusiast. Sejak pertama kali digelar pada 2023, perhelatan yang mempertemukan The Langham Jakarta dan Indonesia Fashion Designer Council (IFDC) ini konsisten membawa nama-nama desainer yang sudah akrab di industri mode Indonesia, sekaligus menghadirkan perspektif baru di panggungnya. Tahun ini, dua desainer ternama, Yosafat Dwi Kurniawan dan Yogie Pratama, untuk pertama kalinya mengambil bagian dalam The Langham Fashion Soirée, berdampingan dengan Liliana Lim, SEBASTIANred, dan Ivan Gunawan yang kembali hadir di panggung ini.
Berlangsung pada 12–14 Agustus 2026, Grand Ballroom lantai tiga kembali menjadi main stage. Namun pengalaman The Langham Fashion Soirée tidak berhenti di runway. Karya-karya para desainer dapat dilihat lebih dekat di lantai lima, dalam interior The Langham yang begitu recognisable—feminin, polished, dengan detail-detail yang memang terasa dibuat untuk dinikmati perlahan. Di sela presentasi, jamuan dan refreshments dari The Langham Jakarta melengkapi suasana. Flow-nya terasa apik dan seamless, membuat fashion dan hospitality berjalan beriringan tanpa salah satunya mengambil alih.
Kami mulai dari malam terakhir, bersama Yogie Pratama.
Yogie Pratama: Modernisasi Keanggunan Era 1950-an

Kami mulai dari malam terakhir, bersama Yogie Pratama. Tiga gaun berwarna pink membuka presentasinya pada Jumat (14/08), hampir seperti menyapa The Langham dengan warna khasnya sendiri. Kelembutan draping, ruching, dan pleats bertemu dengan ornamentasi 3D appliqué yang romantis, sebelum koleksi berpindah ke permainan tekstur yang semakin kaya.
Untuk debutnya di The Langham Fashion Soirée, desainer couture ini membawa eksplorasi craftsmanship yang terasa lebih kompleks. Tekstur menjadi hal pertama yang tertangkap mata—permukaan busana yang hidup, detail yang mengundang pandangan untuk zoom-in dan freeze, sekaligus memperlihatkan sentuhan couture yang selama ini menjadi karakter Yogie.

Sebanyak 30 look terinspirasi dari gaya busana era 1950-an, periode yang bagi Yogie merepresentasikan salah satu masa dengan estetika yang begitu paripurna. Siluet hourglass yang membingkai tubuh perempuan menjadi salah satu referensi utamanya, namun tidak diterjemahkan sebagai nostalgia semata. Yogie meringankannya dengan konstruksi yang lebih modern, memperkaya detail, dan menjadikan tekstur sebagai pusat perhatian.
Palet emas, rose gold, merah muda, dan nude menjaga koleksi tetap berada di wilayah feminin yang lembut, sementara teknik tambour beading memberi dimensi lebih dalam pada permukaan setiap busana. Manik-manik dirangkai satu demi satu dengan ketelitian yang terlihat jelas ketika koleksi bergerak di runway. Bahkan pada look bridal yang menjadi penutup, teknik tersebut kembali menjadi salah satu detail yang paling mencuri atensi.

Patricia Gouw turut menjadi salah satu model, sementara BCL hadir di front row. Keduanya merupakan klien Yogie yang mengenakan gaun pengantin rancangannya, membuat penutup show terasa semakin personal.
Yosafat Dwi Kurniawan: Keluar dari Garis yang Sudah Dikenal

Sehari sebelumnya, giliran Yosafat Dwi Kurniawan mengambil runway The Langham Fashion Soirée untuk pertama kalinya. Setelah 15 tahun berkarya, ia membawa Après la Révolution—pasca revolusi—sebagai sebuah refleksi sejarah sekaligus revolusi dalam bahasa desainnya sendiri.

Yos, sapaan akrabnya, memang mengakrabi histori mode. Kali ini, perubahan dimulai dari siluet. Jika selama ini ia dikenal dengan shape pinggang yang tegas dan berstruktur, koleksi terbarunya bergerak lebih ringan, melayang dalam siluet yang longgar. Namun ia tetap strict pada tema sebagai medium bercerita, dimulai dari nuansa imperialisme dan kemewahan yang terinspirasi detail Baroque-Rococo.

Palet hitam dengan embroidery gold ala militer menjadi salah satu highlight awal, sebelum koleksi bergerak ke arah yang lebih low-key. Bordir menggantikan sematan payet yang biasanya hadir dalam rancangan Yos, dikerjakan melalui mesin bordir mutakhir dengan potongan laser dari NOMATEX. Ia juga mengeksplorasi drapery, teknik yang jarang digunakan dalam karyanya, dengan tetap membawa jejak siluet era 40-an, 50-an hingga 60-an.
Aksesori dari NOMA, termasuk buckle gold pada sabuk, ikut memberi aksen baru. Material jersey, voile, tweed, serta viscose rayon dan lyocell dari Asia Pacific Rayon (APR) melengkapi eksplorasi kali ini.
Menariknya, Yos juga membawa bridal look khas resort yang terinspirasi kebutuhan para pengantin yang memilih Bali atau destinasi tropis. Siluetnya dibuat lebih loose dan santai—satu lagi bukti bahwa debutnya di The Langham Fashion Soirée menjadi ruang baginya untuk mencoba sesuatu yang baru.
Ivan Gunawan: Sekar Jagat dalam Sorotan

Pada hari kedua The Langham Fashion Soirée 2026, Ivan Gunawan menghadirkan Nusanova 2.0: Sekar Jagat, melanjutkan fashion exhibition dengan judul yang sama yang sebelumnya digelar di Dgallerie Jakarta. Sebanyak 35 look ditampilkan dalam presentasi ini, dengan batik Madura menjadi sorotan utama koleksinya.
Sekar Jagat sendiri merupakan salah satu motif khas batik Madura yang dikenal lewat karakter warna dan coraknya yang kuat. Dalam koleksi ini, batik hadir dalam berbagai look evening wear, mulai dari blazer A-line dan blus peplum hingga gaun malam, dengan detail kristal dan aplikasi yang memberi dimensi berbeda pada material tradisional tersebut.

Yang menarik dari Nusanova 2.0 adalah konteks di balik koleksinya. Fashion exhibition yang menjadi asal presentasi ini tidak hanya memperlihatkan hasil akhir sebuah busana, tetapi juga proses pembuatannya sekaligus memberi apresiasi kepada para perajin dan tim kreatif yang telah bekerja bersama Ivan selama bertahun-tahun. Pameran tersebut pun tercatat dalam MURI sebagai Pameran Busana Imersif Pertama Berbasis Corak Batik Sekar Jagat Madura.
Untuk rangkaian The Langham Fashion Soirée, koleksi ini kemudian hadir sebagai presentasi yang mempertemukan karya Ivan dengan suasana fashion week yang lebih intimate di The Langham Jakarta.
Liliana Lim: Florilegium, Bunga yang Mekar di Malam Hari

Membuka gelaran pada 12 Agustus, Liliana Lim kembali dengan Florilegium, sekaligus menandai keikutsertaannya yang keempat di panggung The Langham Fashion Soirée. Sebanyak 30 gaun malam memperlihatkan kekuatannya pada teknik moulage dan drapery, kali ini dengan kain yang dibentuk menyerupai bunga.
Alih-alih musim semi yang penuh warna cerah, Liliana membayangkan sebuah taman yang mekar di malam hari. Hitam, silver, gold, off-white, dan merah pekat berpadu dengan taffeta, jacquard, organza, satin, serta crinoline. Kristal dan mutiara hadir secukupnya, memperkaya tanpa mengambil perhatian dari konstruksi.

Dari jauh, Florilegium terlihat sebagai rangkaian evening gown yang anggun. Dari dekat, justru detail drapery dan pengembangan polanya yang membuat mata ingin berhenti lebih lama.
SEBASTIANred: LA GARÇONNE, Perempuan yang Memilih Bebas

Masih di hari pertama, Sebastian Gunawan dan Christina Panarese melalui SEBASTIANred menghadirkan LA GARÇONNE untuk musim 2026/2027. Koleksi 56 look ini mengambil inspirasi dari novel Victor Margueritte tahun 1922 tentang perempuan yang memilih kebebasan dan hidupnya sendiri.
Louise Brooks dan Clara Bow menjadi dua referensi karakter yang berbeda: satu dengan garis androgini yang tegas, lainnya dengan sisi feminin yang playful. Keduanya kemudian diterjemahkan dalam permainan hitam-putih, maroon dan crimson, tailoring presisi, drapery, lace, embroidery, sequins, serta layering.

Beberapa look membawa nuansa flapper dan Art Deco yang kuat, sementara gaun malam dengan tulle hitam, sheer maroon, dan merah pekat memberi penutup yang lebih dramatis. Kolaborasi aksesori bersama Le Ciel melengkapi keseluruhan mood 1920-an.
Tiga hari, lima desainer, dan satu alasan untuk datang kembali setiap malam. Bukan hanya untuk melihat apa yang baru di runway, tetapi juga menikmati bagaimana The Langham Jakarta menempatkan fashion sebagai bagian dari sebuah occasion. Setelah show, masih ada pilihan untuk melanjutkan malam—dari jamuan dan refreshments hingga pilihan dining di Alice sampai T’ang Court—membuat fashion soirée ini terasa seperti pengalaman yang memang tidak selesai begitu saja ketika lampu runway padam.