by Novi Nadya | 17 Jul 2026
Adi busana atau couture kerap diasosiasikan dengan kemegahan yang nyaris membuatnya terasa seperti karya museum—indah dipandang, namun seolah terlalu istimewa untuk benar-benar dikenakan. Di atas runway Sebastian Gunawan Signature Annual Fashion Show 2026 dalam rangkaian Mulia in Fashion, kesan itu justru berubah. Melalui Jazz & Jasper, adi busana tidak hanya tampil untuk dikagumi, tetapi ikut bergerak bersama setiap langkah model—ringan, luwes, dan hidup.
Jazz & Jasper lahir dari pengalaman Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese menikmati konser jazz di Paris. Dari sana, keduanya kembali menengok semangat era 1920-an. Flapper, Art Deco, hingga budaya jazz tidak hadir sebagai kutipan sejarah, melainkan sebagai irama yang mengalun di sepanjang koleksi dan membentuk couture yang terasa dekat dengan perempuan masa kini.

Irama itu terbaca lewat siluet drop waist, tulip skirt, cocoon, hingga tailoring yang terstruktur. Transparansi dan permainan tekstur khas Sebastian Gunawan membuat setiap busana tetap kaya detail tanpa mengorbankan keleluasaan bergerak.
Di balik namanya, Jazz & Jasper menghadirkan dua karakter yang saling melengkapi. Jazz membawa energi, spontanitas, dan dinamika budaya yang mewarnai era 1920-an. Jasper, yang terinspirasi dari batu yaspis dan estetika Art Deco, menjadi penyeimbang melalui karakter yang lebih tenang, kuat, dan abadi.
Palet emas, perak, merah, perunggu, hingga biru membingkai kemeriahan era Jazz. Motif eksklusif, detail Art Nouveau, patchwork lace, serta tekstur bulu hasil olahan benang memperkaya karakter setiap tampilan.

Look pembuka dalam balutan hitam langsung menangkap perhatian. Bodice berhiaskan lace dipadukan dengan rok bervolume yang tetap ringan saat melangkah. Siluet drop waist yang identik dengan era 1920-an hadir tanpa terjebak menjadi busana periode.

Gaun bernuansa ivory kemudian menghadirkan permainan tekstur menyerupai bulu yang dipadukan dengan konstruksi bersih sehingga volumenya tetap lembut dan mengalir. Pada look lainnya, pleats asimetris, tailoring yang presisi, serta aksen transparansi menunjukkan bagaimana estetika era Jazz menemukan bentuk baru yang terasa kontemporer.
"Harapannya koleksi ini bisa diterima oleh audience dan klien-klien. Ini sesuatu yang agak sedikit berbeda, lebih loose dan relax," ujar Cristina Panarese.

Flapper tidak hadir sebagai kostum zamannya. Sebastian Gunawan memilih membawa semangatnya—kebebasan bergerak, keberanian berekspresi, dan kemudahan menikmati setiap langkah—ke dalam couture yang tetap berpijak pada craftsmanship.
Pilihan itu membuat couture terasa lebih dekat dengan cara perempuan hidup hari ini. Kemewahan tidak lagi bergantung pada volume atau kerumitan detail semata, melainkan pada busana yang mengikuti tubuh pemakainya. Gaun tidak berhenti di altar atau runway; ia bergerak, berdansa hingga after-party, lalu menjadi bagian dari setiap perayaan.

Pembacaan ini juga menarik dalam lanskap bridal couture masa kini. Transparansi yang subtil, konstruksi yang lebih ringan, serta permainan tekstur memperlihatkan bagaimana gaun pengantin maupun evening couture bergerak menuju siluet yang lebih ekspresif. Elegansi lahir dari keleluasaan bergerak, tanpa meninggalkan kualitas pengerjaan yang menjadi jiwa couture itu sendiri.


Didukung oleh Hotel Mulia Senayan sebagai venue partner utama, Sebastian Gunawan Signature Annual Fashion Show 2026 juga menghadirkan kolaborasi bersama Clarissa – The Spirit of A Goddess sebagai official alcohol partner, Donny Liem x Artisan Pro untuk tata rias dan penataan rambut para model, serta aksesori kepala rancangan Rinaldy A. Yunardi yang semakin memperkuat karakter setiap tampilan.