by Novi Nadya | 20 Jul 2026
Di tengah semakin beragamnya eksplorasi wastra dalam ranah adibusana, Wilsen Willim memilih menelisik tenun hingga ke lapisan yang paling mendasar. Merayakan satu dekade perjalanan kreatifnya, ia melihat susunan lungsi dan pakan—struktur yang membentuk setiap motif tenun—sebagai sebuah algoritma. Dari sanalah koleksi Algorithm: Universal Language bermula, membaca kembali wastra melalui sudut pandang yang lebih kontemporer.

Gagasan itu kemudian bermuara pada koleksi adibusana perdananya, Algorithm: Universal Language. Tailoring yang menjadi identitasnya sejak awal, eksplorasi batik dan tenun yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir, hingga ketertarikannya pada teknologi dan material berkelanjutan berpadu dalam satu koleksi yang terasa matang. Wastra tidak lagi ditempatkan sebagai simbol tradisi semata, melainkan sebagai material hidup yang terus menemukan bentuk baru.
The Genesis of Rhythm: Saat Tenun Menjadi Musik

Manifestasi gagasan tersebut sudah terasa bahkan sebelum tampilan pertama melangkah ke atas runway. Grand Ballroom Hotel Mulia Senayan seketika tenggelam dalam kegelapan. Dentuman ritmis bernuansa industrial memenuhi ruang, disusul kilatan cahaya yang bergerak mengikuti tempo, membangun antisipasi sejak detik pertama pertunjukan dimulai.
Musik malam itu digarap bersama kolaborator sekaligus teman lamanya, Ican Harem. Bersama-sama, mereka menerjemahkan pola tenun dari empat daerah di Indonesia—Tenun Sutra Garut, Songket Minang Halaban, Songket Jembrana Bali, serta Tenun Dayak Iban dari Kapuas Hulu—menjadi komposisi bunyi. Melalui teknologi artificial intelligence, setiap motif dipindai untuk membaca pola algoritmanya, lalu diolah menjadi instrumen, tempo, dan ketukan yang saling mengisi layaknya proses menenun.

"Jadi kita memutarkan suara terjemahan berbagai motif tenun dari keempat daerah yang kami angkat," jelas Wilsen mengenai proses kreatif tersebut.
Hasilnya menghadirkan pengalaman yang terasa berbeda. Untuk sesaat, tenun tidak lagi dinikmati melalui tekstur dan motifnya, tetapi juga melalui suara. Audiens diajak merasakan bagaimana selembar kain dapat diterjemahkan menjadi ritme yang hidup, membuka cara baru dalam menikmati warisan wastra Indonesia.
Sartorial Armor: Tailoring yang Membaca Ulang Wastra

Bagi mereka yang mengikuti perjalanan Wilsen Willim, koleksi ini menjadi refleksi atas bahasa desain yang telah ia bangun selama satu dekade. Latar belakangnya sebagai perupa masih terbaca melalui konstruksi busana yang presisi, sementara eksplorasinya terhadap wastra berkembang menjadi bagian penting dari identitas desainnya.
Sebanyak 60 tampilan busana pria dan wanita diperagakan sebagai koleksi adibusana pertama Wilsen. Tenun dari empat wilayah Indonesia dipadukan dengan benang denim daur ulang serta batik tulis Cirebon bermotif khusus rancangan studio Wilsen Willim. Anda dapat menemui kemeja, jaket, celana, rok, korset, apron, bib, hingga kain jarik yang dikenakan dengan styling yang lebih cair. Palet biru khas denim mendominasi koleksi, diperkaya semburat hitam, putih, abu-abu, biru elektrik, serta aksen metalik emas, perak, dan perunggu.

Siluet-siluet khas Wilsen kembali hadir melalui potongan yang bersih dan tegas. Elemen biker jacket, detail asimetris, serta konstruksi tailoring yang selama ini menjadi cirinya berdialog dengan beskap, janggan, hingga kerah yang mengingatkan pada kebaya Kartini. Harness kulit, korset, apron, dan aksesori metal tidak hadir sebagai elemen yang dipertentangkan dengan wastra. Semuanya menyatu sebagai bagian dari struktur busana yang memperlihatkan bagaimana material tradisional dapat hidup berdampingan dengan estetika utilitarian.
Kolaborasi bersama Subeng Klasik, Peau, dan Bocorocco semakin memperkuat karakter koleksi ini. Setiap elemen memiliki porsinya sendiri, menghadirkan busana yang tetap berakar pada tradisi, namun terasa relevan dengan cara berpakaian masa kini.
The Collector's Eye: Membaca Detail yang Membentuk Koleksi
Kekuatan koleksi ini justru terasa ketika diamati dari dekat. Di balik permainan material, Wilsen menunjukkan ketelitian konstruksi yang menjadi fondasi setiap tampilannya.

Elemen utilitarian buttons membuat panel tenun dapat berpindah fungsi seperti dapat membingkai tubuh lalu hadir kembali sebagai aksen menarik pada rok atau celana. Membuat cara mengenakan wastra atau touch of wastra lebih dinamis tanpa kehilangan presisi tailoring khas Wilsen.

Eksplorasi tersebut berlanjut melalui bib, kerah memanjang, hingga elemen-elemen detachable yang membuat satu busana seolah memiliki lebih dari satu kemungkinan bentuk. Ujung kemeja berpotongan scallop yang menyembul dari balik luaran pun menjadi transisi halus yang melembutkan garis tailoring yang tegas.

Permainan layering menjadi salah satu padu-padan paling kuat. Panel-panel kain saling bertumpuk, sementara lilitan tenun dan denim menghadirkan semangat subkultur punk yang diterjemahkan secara lebih refined. Seluruhnya tetap terasa terukur berkat konstruksi tailoring yang presisi.

Motif grid pada blazer ditampilkan lagi, jahitan menyerupai garis putus-putus berhiaskan manik, serta reinterpretasi bib, beskap, dan janggan menunjukkan bagaimana elemen-elemen klasik terus menemukan bentuk baru tanpa kehilangan akar budayanya.
Dan bagi dunia pernikahan, eksplorasi ini menawarkan perspektif baru bagi busana mempelai, baik pria maupun wanita. Di tengah pilihan yang masih didominasi setelan jas ataupun beskap klasik, pendekatan Wilsen menghadirkan alternatif yang terasa lebih personal dan arsitektural. Ia tetap menghormati akar budaya, tetapi memberi ruang bagi karakter pemakainya untuk tampil lebih ekspresif—sebuah pendekatan yang semakin relevan bagi pengantin masa kini.
Crafting Tomorrow: Ketika Inovasi Menjadi Bagian dari Tradisi


Di balik eksplorasi visualnya, Algorithm: Universal Language juga terus membawa gagasan mengenai keberlanjutan. Wilsen kembali menggunakan benang denim daur ulang hasil olahan Ecotouch yang dipadukan dengan tenun dari berbagai daerah di Indonesia. Pilihan material ini menjadi upaya mengurangi limbah tekstil sekaligus menjawab tantangan kelangkaan benang yang kerap dihadapi para penenun.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu berarti meninggalkan tradisi. Sebaliknya, teknologi, material baru, dan kolaborasi dapat menjadi cara untuk memperpanjang perjalanan sebuah warisan budaya sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih berkelanjutan bagi komunitas perajin di berbagai daerah.
Algorithm: Universal Language menjadi penanda bagaimana perjalanan kreatif Wilsen Willim terus berkembang tanpa melepaskan akar yang membentuknya. Tailoring, batik, tenun, teknologi, dan keberlanjutan berpadu dalam satu koleksi yang membuktikan bahwa tradisi selalu memiliki ruang untuk tumbuh bersama zamannya.