by Novi Nadya | 21 Oct 2026
Ubud terus kedatangan hotel baru. Kali ini, Kimpton Suntaya Bali Ubud menjadi salah satu nama yang dinantikan menjelang pembukaannya pada akhir 2026. Hotel ini merupakan properti Kimpton pertama di Indonesia sekaligus hotel IHG Hotels & Resorts pertama di Ubud.
Bagi brand yang dikenal lewat hotel bergaya lifestyle, masuk ke Ubud tentu menarik untuk diamati. Kawasan ini sudah memiliki karakter hospitality sendiri, dari vila di tengah pepohonan hingga resort yang menjadikan alam sebagai daya tarik utama. Kimpton memilih Jalan Bisma, tak jauh dari pusat Ubud dan di tepi Sungai Wos. Lokasi ini menempatkan hotel dalam jangkauan kehidupan Ubud, tanpa menjauh dari suasana alam yang dicari banyak traveler.
Ada pepatah, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Dalam hospitality, prinsip ini juga relevan bagi sebuah brand yang masuk ke destinasi baru: membawa identitasnya sendiri sambil memahami tempat yang akan menjadi rumahnya begitu juga arti nama Suntaya. Terinspirasi dari bahasa Sansekerta, Suniya berarti keheningan dan Taya, artinya vitalitas. Nama tersebut merefleksikan ritme unik Ubud, tempat di mana suasana untuk menyepi dan berkumpul hadir dalam keseimbangan yang selaras.
Warna Selipan Laut di Pedalaman Bali

Ada warna teal yang langsung mencuri perhatian dari foto interior kamar yang dirilis. Di antara kayu berwarna madu, anyaman, marmer bernuansa lembut, dan hijaunya pepohonan di luar, warna ini terasa seperti selipan laut di pedalaman Bali. Sebuah pilihan yang menarik untuk Ubud, tempat hijaunya alam begitu lekat dengan bayangan orang tentang Bali, meski identitas pulau ini juga tak pernah jauh dari birunya laut.
Dirancang oleh Denton Corker Marshall, arsitektur Kimpton Suntaya mengambil inspirasi dari prosesi seremonial Bali. Gagasan tentang gerak dan kebersamaan diterjemahkan ke dalam komposisi bangunan yang mengikuti kontur perbukitan dan tepian sungai. Rujukan budaya di sini tidak berhenti pada ornamen atau dekorasi; melainkan menjadi bagian dari gagasan arsitekturnya.
Kimpton Suntaya menyiapkan 101 akomodasi, mulai dari kamar hingga suite dan vila dengan kolam renang pribadi. Untuk kuliner, ada lima destinasi bersantap yang diantisipasi, termasuk Imamura Ubud, restoran omakase yang dipimpin Chef Hirofumi Imamura, serta Shaku by Imamura dengan konsep izakaya Jepang. Keduanya memberi warna kuliner yang cukup spesifik.
Ritual khas Kimpton

Fasilitas kebugaran dua lantai dengan area pemulihan dan terapi kontras, bersama Sakshi Spa yang mengambil inspirasi dari tradisi penyembuhan Bali, melengkapi penawaran wellness. Ada pula ritual khas Kimpton yang dibawa ke sini: Kimpton Kickstart dengan kopi, teh, dan pastry pada pagi hari, serta Kimpton Social sebagai kesempatan untuk berkumpul pada sore atau malam hari. Program Forgot It, We’ve Got It! melengkapi sisi praktis pelayanan brand ini. Detail-detail tersebut membuat kami ingin melihat bagaimana gaya Kimpton dalam keseharian hotel di Ubud.
Austin Jones, General Manager Kimpton Suntaya Bali Ubud, juga bukan orang baru di lingkungan jenama hospitality milik Bill Kimpton yang didirikan di San Francisco tahun 1981 ini. Ia telah berpengalaman di hampir selusin properti Kimpton.
“Merupakan sebuah kehormatan bagi saya untuk memperkenalkan Kimpton ke Indonesia, di Ubud yang kaya akan budaya dan kehidupan kreatif. Kami ingin Kimpton Suntaya menjadi tempat yang terbuka, berjiwa, serta terhubung dengan alam dan orang-orang di sekitarnya—sebuah tempat berkumpul bagi tamu maupun masyarakat lokal,” ujar Jones.
Kimpton Suntaya Bali Ubud membawa sejumlah hal yang layak dinantikan, sekaligus menambah warna pada peta hospitality di Ubud, destinasi yang lama dikenal sebagai tempat untuk mengambil jeda. Debutnya memberi satu lagi alasan untuk mengikuti perkembangan kawasan ini.