by Novi Nadya | 24 Sep 2026
Sate Khas Senayan kembali ke tempat ia bermula sebagai bagian dari perayaan 52 tahun perjalanannya—kali ini dalam format yang terasa sangat Jakarta: sebuah angkringan di tengah kawasan ikonis yang tak pernah benar-benar sepi.
Lewat Festival Sate Nusantara 2026, perayaan dimulai dari Taman Air Mancur Plaza Senayan sebelum diteruskan ke seluruh gerai Sate Khas Senayan di Jabodetabek hingga 18 Oktober 2026.
Tenda oranye yang membentang di area air mancur menjadi panggung pembuka. Di dalamnya, pendopo dengan meja kayu dan rotan, area duduk yang mengingatkan pada rumah eyang, hingga pilihan lesehan dan bantalan duduk membawa suasana angkringan yang akrab ke tengah salah satu kawasan urban Jakarta.
Bar kopi TUKU menjadi bagian dari kolaborasi TUKU Ning Senayan. Dua jenama dengan perjalanan berbeda ini bertemu dalam konteks yang menarik: Sate Khas Senayan dengan sejarah lebih dari lima dekade, TUKU dengan budaya kopi yang tumbuh bersama generasi urban. Keduanya pun sama-sama memiliki gerai di Amsterdam.
Di sekitar air mancur, meja dan bantalan duduk khas angkringan membuat area terbuka terasa seperti perpanjangan dari tenda. Akar tradisi tetap terasa, sementara Jakarta berjalan seperti biasa di sekelilingnya.

Kami memilih duduk menghadap air mancur sambil mencicipi Discovery Platter, yang menyajikan delapan varian sate dalam satu sajian. Ada Sate Ayam Ponorogo Blora, Sate Ayam Madura, Sate Ayam Rembang, Sate Ayam Plecing, Sate Lilit Ayam, Sate Jamur Ponorogo hingga Sate Udang Bakar. Sate Taichan, yang kini menjadi salah satu menu baru Sate Khas Senayan, turut melengkapi pilihan.


Ponorogo dan Blora terasa familiar bagi mereka yang mengenal Sate Khas Senayan. Namun, ketika keduanya disandingkan dengan resep dari berbagai daerah lain, perbedaannya justru semakin terasa. Satu piring memperlihatkan bahwa di balik nama yang sama, sate punya begitu banyak profil rasa.
“Melalui Festival Sate Nusantara, kami ingin mengajak masyarakat tidak hanya menikmati sate, tetapi juga mengenal keberagaman cerita, cita rasa, dan tradisi di baliknya. Warisan akan terus hidup ketika tetap dinikmati dan relevan bagi generasi hari ini,” ujar Maria Fransisca, Head of Marketing Sate Khas Senayan.

Pilihan sate tersebut kemudian dipertemukan dengan minuman TUKU melalui TUKU Ning Senayan. Teh Krampul Senayan, Cold Drip Asem Jawa, Cold Drip Sore, dan Raroblanc hadir dengan pairing masing-masing. Teh Krampul menemani Sate Ayam Ponorogo Blora dan Sate Ayam Madura, sementara Cold Drip Asem Jawa dipasangkan dengan Sate Taichan dan Sate Ayam Rembang.
Pairing ini menarik karena tidak berusaha mengubah sate. Kopi dan minuman TUKU membawa kebiasaan urban yang sudah akrab ke meja makan yang berakar pada tradisi. Keduanya bertemu tanpa perlu menggeser identitas masing-masing.
Paspor Sate Nusantara
Festival Sate Nusantara menghadirkan lebih dari 20 varian sate dari berbagai daerah di Indonesia. Setelah pembukaan di Plaza Senayan, rangkaian festival diteruskan di seluruh gerai Sate Khas Senayan di Jabodetabek hingga 18 Oktober 2026. Discovery Platter tetap menjadi bagian dari festival, sementara Sate Paspor mengajak pengunjung mencicipi berbagai varian, mengumpulkan cap, dan mencapai sejumlah milestone untuk mendapatkan hadiah.

52 tahun setelah bermula, menarik melihat bagaimana sebuah jenama kuliner menjaga relevansinya tanpa meninggalkan akar. Festival ini memberi kesempatan untuk kembali mengenali sesuatu yang sudah begitu akrab—dengan pilihan rasa yang lebih luas, pairing yang terasa modern, dan alasan untuk mencoba satu tusuk yang mungkin belum pernah dipilih sebelumnya.