by NN | 09 Dec 2025
Dalam 36 tahun perjalanan kreatifnya, satu hal yang tidak pernah berubah dari Didi Budiardjo adalah kejujuran dalam berkarya. Melalui koleksi terbaru 2026 bertajuk If Only, ia membuka ruang renungan—baik untuk dirinya sebagai fashion designer, maupun bagi para calon pengantin yang kelak merayakan diri melalui gaun-gaunnya.
Mengajak publik melihat lebih dekat desain dan pemikirannya, Didi Budiardjo menghelat sesi Re-See If Only di Ballroom The Langham, Jakarta, awal November 2025. Sebanyak 21 rancangan yang sebelumnya tampil di Jakarta Fashion Week 2026 kembali dihadirkan—kali ini untuk diamati lebih detail, disentuh, dan dipahami secara lebih imersif.
“Dalam 36 tahun berkarier sebagai perancang busana, saya ingin menampilkan sesuatu yang baru tanpa meninggalkan DNA saya. Dalam koleksi If Only, saya memberikan gagasan dan siluet baru yang belum pernah saya eksplorasi sebelumnya. Kali ini terinspirasi dari era 1930-an dengan garis dan elemen penuh art deco. If Only hadir sebagai ruang kontemplasi, titik-titik yang bisa diisi oleh siapa pun—if only you believe in love,” ujar Didi saat berbincang dengan Le Mariage sambil menyentuh satu per satu detail rancangannya.
Menemukan Gaun Pengantin Paling Personal ala Didi Budiardjo

Melewati berbagai zaman dan revolusi tren, Didi Budiardjo membangun bahasanya sendiri. Riset mendalam dan keberaniannya bereksperimen membuat gaya khasnya selalu berevolusi tanpa kehilangan identitas. Untuk koleksi kali ini, ia meminjam ilham dari arsitek Frank Lloyd Wright, yang ia temukan kembali melalui sebuah film bisu era 1930-an—membawanya pada permainan garis-garis art deco yang tegas namun romantis.
Bahasa visual itu kemudian diterjemahkan menjadi gaun pengantin masa kini: clean, modern, namun tetap penuh romansa. Graphic lines hadir dalam nuansa silver, pastel, hingga putih cangkang telur. Lalu kemewahan diwujudkan lewat material fluid, silk, manipulasi kain bertabur bunga, serta teknik couture yang menjadi ciri khas Didi.
Detail-detailnya merayakan craftmanship: strap kristal pada gaun yang menjuntai hingga ke pinggang, bunga berenamel, mutiara baroque, hingga sentuhan chinoiserie yang megah. Semuanya dirangkai untuk membuat pemakainya melangkah ke depan—mewujudkan gagasan tentang gaun universal baru, gaya tanpa batas, bukan hanya warisan dari figur ideal, tetapi untuk perempuan Didi Budiardjo yang nyata.
Cara Didi Memahami Pengantin Masa Kini

Di balik seluruh estetika itu, Didi percaya bahwa proses memilih gaun tidak pernah sekadar hanya indah. Ia adalah proses kejujuran: “Pengantin masa kini harus show their true self. Ia harus jujur saat memilih gaun pengantin. Banyak pertanyaan yang harus dijawab: mengapa mengadakan pesta pernikahan, apa tujuannya, apakah ini benar keinginannya atau hanya mengikuti kecenderungan?” tuturnya.
Tidak sedikit calon pengantin yang datang dengan kebingungan. Dan bagi Didi, itu sangat wajar. “Ada orang yang bingung—itulah gunanya datang ke perancang busana. Tugas saya bukan menentukan, tapi mengarahkan calon pengantin untuk memilih busana yang diinginkan,” jelasnya.
If Only: Ruang Renungan untuk Cinta, Keberanian, dan Diri Sendiri

Bagi Didi, koleksi If Only dengan 21 look-nya adalah sebuah perenungan. Sebuah reflection yang titik-titiknya dapat diisi oleh siapa pun—selama ia percaya pada cinta. Ia melihat pernikahan sebagai momen sekali seumur hidup; sebuah waktu yang kelak ingin dikenang, dilihat kembali, dan diteruskan ceritanya kepada generasi berikutnya.
Karena itu, memilih gaun pengantin sebaiknya bukan soal mengikuti tren, melainkan soal mencerminkan diri—apa yang ingin disampaikan seorang perempuan tentang dirinya, hari ini dan di masa depan.
Dan di tengah pergeseran tren, ketika pernikahan kini semakin cair dan generasi muda lebih berani mengekspresikan diri tanpa tuntutan tradisi, ruang itu semakin relevan. Tidak lagi tentang pakaian yang “seharusnya” dikenakan, tetapi tentang keberanian mengatakan: inilah saya.