by NN | 30 Oct 2025
Memasuki usia ke-35, Plaza Indonesia tidak hanya merayakan perjalanan panjang sebagai destinasi gaya hidup paling ikonik di tanah air, tetapi juga menegaskan perannya sebagai ruang di mana tradisi, inovasi, dan nilai keberlanjutan bertemu. Lewat Plaza Indonesia Fashion Week (PIFW) 2025, salah satu mal ultra-luxury tertua di Indonesia ini menghadirkan panggung lintas generasi yang memperlihatkan bagaimana mode Indonesia yang terus berevolusi dalam kreativitas tanpa meninggalkan akar budayanya.

KRATON by Auguste Soesastro

IKAT Indonesia by Didiet Maulana dan Muse Plaza Indonesia 2025 Angga Yunanda & Maudy Ayunda
Dengan tema "Love Letters to Plaza Indonesia: Celebrating 35 Iconic Years", PIFW 2025 menghadirkan 35 peragaan busana yang berlangsung pada 28 September-5 Oktober 2025 di The Warehouse, Level 5.

BINHouse
Tahun ini, Plaza Indonesia menyatukan seluruh segmen, wanita, pria, dan anak-anak dalam satu kurasi besar yang menyuguhkan keberagaman karya dan kolaborasi sebagai refleksi gaya hidup masa kini. Menurut Zamri Mamat, Deputy Chief Marketing Officer Plaza Indonesia, langkah ini menjadi bentuk perayaan sekaligus pembuktian bahwa fashion Indonesia terus relevan terhadap perubahan zaman.
Menjembatani Tradisi dan Inovasi

PIFW 2025 dibuka dengan gagasan filosofis melalui film pendek berjudul "Pulang" dari label Sejauh Mata Memandang (SMM), hasil kolaborasi bersama Lynx Films dan dibintangi Widuri Puteri. Film yang menjadi ajakan untuk merenungkan relasi manusia dengan alam, menempatkan keberlanjutan sebagai benang merah sebelum seluruh rangkaian mode dimulai.

Sebagai label yang menjunjung prinsip slow fashion, SMM menampilkan koleksi "Puspa" dengan motif Ombak Laut dalam palet merah jambu lembut, diwarnai alami menggunakan kayu secang, dan dikerjakan oleh perajin lokal di Pekalongan. SMM juga menghadirkan pop-up concept-store di The Space, Level 2.
Batik: Relevansi Lintas Generasi
Batik menjadi salah satu benang merah yang menghubungkan lintas generasi di PIFW 2025. Dari rumah mode legendaris hingga desainer kontemporer, setiap koleksi memperlihatkan kekuatan wastra Nusantara terus hidup dan beradaptasi di tengah perubahan gaya hidup global.

Batik Keris
Batik Keris, yang berdiri sejak 1947, mempersembahkan koleksi "Kharisma Senjakala-Keindahan Senja", interpretasi elegan atas transisi siang dan malam. Dengan 34 tampilan yang mengalir dari busana kerja hingga eveningwear, koleksi ini membuktikan bahwa batik dapat berbicara dalam bahasa mode modern tanpa kehilangan ruh tradisi.


Julianto For Iwan Tirta Private Collection
Sementara itu, Iwan Tirta Private Collection, dalam kolaborasi dengan Julianto, menyuguhkan "Jagad Rasa". 30 tampilan yang menafsirkan ulang kemegahan motif klasik dalam siluet kontemporer. Dominasi warna sogan, emas, dan putih menghadirkan kesan timeless, sementara dua kebaya putih modern menjadi simbol evolusi kebaya menuju gaya yang lebih universal namun tetap elegan.
Kolaborasi bateeq x Ferry Salim melalui koleksi "Langit Rawates" juga menjadi sorotan. Koleksi ini mengangkat filosofi melting pot sebagai simbol keberagaman dan inklusivitas. Menggabungkan motif klasik seperti Mega Mendung, Parang, dan Kawung ke dalam gaya kasual yang membumi dan dapat dikenakan lintas usia.

"Saya ingin batik terasa relevan, bisa dipakai ke mana saja, oleh siapa saja, tanpa kehilangan jiwanya," ujar Ferry Salim.
Kemewahan dalam Gaya Sehari-hari dan Destinasi
Selebrasi lokalitas di PIFW 2025 tidak hanya berhenti pada wastra dan motif, tetapi juga pada sinergi antara rumah mode, desainer, dan jenama yang menonjolkan presisi desain serta kualitas material. Salah satu kolaborasi yang dinanti adalah antara Josephine Anni dan Hian Tjen lewat koleksi "Marée".

Josephine Anni dikenal dengan rancangan modern, klasik, dan abadi dengan tailoring yang bersih dan presisi. Dipadukan dengan keanggunan couture khas Hian Tjen, kolaborasi ini menghasilkan rangkaian busana yang menyeimbangkan kemewahan dan fungsi.

"Dari pemilihan bahan hingga penyempurnaan detail, koleksi ini menunjukkan bahwa couture bisa hadir dalam kehidupan sehari-hari tanpa terasa berlebihan," ujar Hian Tjen.
Sementara itu, KRATON by Auguste Soesastro menghadirkan koleksi 'Archipelago Cruise'. Sebuah interpretasi gaya high-end resort untuk iklim tropis. Terinspirasi oleh Bali, koleksi ini merupakan revisit atas tema yang pernah diangkat 15 tahun lalu, kini dihadirkan dengan refleksi dan dinamika sosial dan budaya Pulau Dewata yang terus berubah.


Paduan antara parka linen dengan sarung tenun Bali, hingga kebaya putih berkerah tinggi yang dipasangkan dengan hareem pants, menciptakan busana tropis modern yang mengharmonisasi tradisi dan estetika global.
Yang Terus Bersinar

Jan Sober
PIFW juga menghadirkan sejumlah presentasi dari PILLAR, di antaranya Tanah Le Saé dan Jan Sober. Dalam “Chapter X: Love, Loss, Memory,” Tanah Le Saé mengeksplorasi perjalanan emosional antara cinta dan kehilangan melalui reinterpretasi kebaya dan beskap dalam pendekatan gender-neutral. Sedangkan Jan Sober melalui “The Space Between” memperkenalkan lini womenswear pertamanya—koleksi yang menegaskan kekuatan dalam keheningan, menghadirkan struktur dan kelembutan dalam keseimbangan yang tenang.
Menutup perhelatan, Wilsen Willim mengangkat koleksi yang melampaui batas busana siap pakai—eksplorasi imajinasi yang berakar pada peleburan budaya Asia dalam potongan kontemporer dengan palet hitam, merah, putih, dan kelabu. Setiap tampilan diperkaya aksesori hasil kolaborasi dengan Subeng Klasik dan Pale Object.

Sebelumnya, Wilsen Willim juga berkolaborasi dengan Dear Me Beauty lewat “Garis Waktu – The Rise of New Gen” . yang memperkenalkan face palette dan Hydraglow Lip Stain edisi terbatas sebagai simbol regenerasi dan kebebasan berekspresi generasi baru.

Wilsen Willim x Dear Me
Dalam tiga dekade lebih perjalanan Plaza Indonesia serta PIFW yang dimulai pada tahun 2009 konsisten menjadi melting pot antara warisan dan visi masa depan. Teman di mana mode Indonesia bertumbuh, beresonansi, dan menemukan relevansinya kembali.