by EBI | 09 Sep 2019
Saat akan membina sebuah hubungan rumah tangga, jangan sampai seperti
pepatah membeli kucing dalam karung. Jangan sampai gangguan kesehatan yang
buruk dari pasangan diketahui saat sudah menikah. Sebaiknya Anda beserta pasangan melakukan premarital medical check up atau tes kesehatan pra pernikahan.
Hal tersebut untuk mengetahui apakah diri sendiri atau pasangan memiliki
gangguan kesehatan yang bisa berakibat buruk bagi hubungan rumah tangga dam dalam
hal memperoleh keturunan kelak.
Ingat kesehatan adalah kunci dari kehidupan.
Kapan waktu yang tepat untuk melakukan pemeriksaan tes
kesehatan pra nikah?
Pada
dasarnya premarital medical check up
dapat dilakukan kapan pun, namun waktu yang tepat adalah enam bulan sebelum menjelang
hari pernikahan. Alangkah baiknya apabila kedua calon mempelai dapat mengetahui
kondisi kesehatan pasangan masing-masing.
Apabila
dari hasil tes kesehatan pra-pernikahan ditemukan masalah, dokter akan
segera melakukan tindakan pengobatan pada calon mempelai untuk meminimalkan
risiko lebih lanjut yang mungkin timbul.
Apa saja risiko penyakit yang bisa menular
pada pasangan atau keturunan?
Penyakit
seperti diabetes melitus, kelainan jantung, hipertensi, dan kelainan darah
cenderung diturunkan. Calon ibu yang mempunyai kadar gula tinggi, bila tidak
dikontrol dapat berisiko cacat pada janinnya atau mengalami komplikasi
kehamilan seperti janin besar, gangguan pertumbuhan pada janin, proses
kelahiran yang sulit atau janin meninggal di dalam kandungan.
Penyakit
infeksi seperti hepatitis B juga bisa ditularkan ibu kepada janinnya atau dari
sang suami kepada istrinya. Sebagian besar Penyakit Menular Seksual (PMS)
termasuk sifilis, herpes, gonorrhea
juga bisa mengakibatkan terjadinya kecacatan pada janin.
Ketidakcocokkan
rhesus atau protein antigen yang
terdapat pada permukaan sel darah merah, dapat mengakibatkan janin mengalami
anemia, jaundice (kuning) dan
komplikasi lainnya. Ketidakcocokkan rhesus
ini sering terjadi pada pasangan berbeda ras atau pernikahan beda
kewarganegaraan.
Kelainan
jantung bawaan atau congenital heart
disease merupakan suatu kelainan pembentukan struktur jantung atau pembuluh
besar yang keluar dari jantung. “Congenital”
artinya “lahir dengan” atau “hadir pada kelahiran’” atau dalam artian “bawaan sejak
lahir”.
Hipertensi
atau tekanan darah tinggi, kadang-kadang disebut juga dengan hipertensi arteri,
adalah kondisi medis kronis dengan tekanan darah di arteri meningkat.
HIV/AIDS,
rusaknya sistem kekebalan tubuh akibat infeksi virus HIV atau infeksi
virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya.
Apakah
yang perlu dipersiapkan jika memiliki rencana langsung punya anak setelah
menikah?
Cek kesuburan. Jika pasangan ingin segera punya
anak, perlu menjalani konseling pra nikah. Dalam hal ini
dilakukan pemeriksaan dengan tujuan agar kehamilan bisa dipersiapkan dan
dijalankan dengan baik. Dibutuhkan riwayat kesehatan dan kondisi sosialnya.
Antara lain status ekonomi (bekerja atau tidak bekerja)
dan suasana di lingkungan keluarga. Termasuk perilaku-perilaku yang tidak
mendukung kehamilan, semisal merokok, minuman beralkohol, dan memakai
obat-obatan psikotoprika. Selain itu, perlu juga dievaluasi risiko yang bersifat
individual yang mungkin timbul terhadap kehamilan.
Antara
lain usia (masih reproduktif atau tidak), kondisi nutrisi, aktivitas fisik, tingkat
pendidikan, tingkat stres, dan bagaimana hubungan dengan pasangan. (EBI,
sumber: wowheboh.org, foto: strengtheningmarriage.com)