by Novi Nadya | 24 Mar 2026
Ada masa ketika pernikahan dipandang sebagai tujuan otomatis dalam hidup. Lulus kuliah, bekerja, lalu menikah—seolah urutan itu berjalan auto-pilot dan dinormalisasikan. Kini, generasi baru melihatnya berbeda. Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, kesiapan finansial, dan dinamika relasi modern, keputusan untuk menikah tak lagi sekadar tentang menemukan cinta—melainkan tentang memahami diri sendiri.
Muncul pertanyaan yang kian relevan: bagaimana jika pernikahan tidak hanya dirayakan, tetapi juga dipelajari? Pertanyaan ini menjadi inti dari workshop yang digelar di The Library, Wisma Habibie Ainun, Februari 2026 lalu. Dan di ruang yang sarat sejarah dan filosofi itu, kesadaran itu seakan menemukan wujudnya. Spirit intelektualitas dan cinta sejati terasa nyata begitu memasuki The Library, dengan lantai mezanine dan rak-rak buku yang hangat—simbol keseimbangan langka antara pengetahuan dan cinta, seperti kisah B. J. Habibie dan Hasri Ainun Habibie.

Acara dibuka oleh MC Roro Maheswara yang mengantarkan Nadia Habibie, cucu presiden ke-3 sekaligus Executive Director Habibie & Ainun Foundation dan Brand Ambassador Wisma Habibie Ainun, untuk menyapa para peserta. Nadia berbagi refleksi tentang betapa beruntungnya ia memiliki role model pernikahan melalui eyangnya, sekaligus menekankan bahwa cinta perlu dipahami, bukan hanya dirasakan.
Tur Wisma Habibie Ainun Menjadikan Workshop Sebagai Pengalaman Holistik


Sebelum workshop dimulai, pasangan diajak tur singkat menyusuri Wisma Habibie Ainun. Setiap sudut bercerita tentang filosofi rumah: cinta, budaya, iman, takwa, dan intelektualitas. Kudapan ringan dan signature drink menemani sambil menyaksikan antusiasme para pasangan—ada yang menjadikan workshop sebagai kado kejutan, ada yang tak melepaskan genggaman tangan, seolah merayakan setiap momen bersama.
Dipandu Rani Anggraeni Dewi, workshop dimulai dengan meditasi ringan, menyelaraskan pikiran dan kesadaran peserta. Pertanyaan sederhana namun mendalam dibuka: “Untuk apa kamu menikah?” Ajakan untuk merefleksikan motivasi membangun pernikahan dari dalam diri.
Rani kemudian memaparkan fase-fase kehidupan pernikahan: fase tanam tujuh tahun pertama, fase tumbuh hingga 15 tahun, fase tuai sekitar 25 tahun, hingga menua bersama. Banyak relasi bahkan belum sempat melewati fase tanam—sudah gugur lebih dulu. Salah satu pelajaran utama adalah tentang pasangan yang tepat. Banyak orang berharap menemukan good partner, namun kesadaran mengajarkan: sudahkah kita menjadi the right partner bagi pasangan kita?
“Love, respect, and commitment merupakan fondasi pernikahan. Perkawinan adalah perjalanan spiritual menuju realisasi diri,” ujar Rani.
Pasangan inspiratif Andien Aisyah dan Irfan Wahyudi (Ippe) turut berbagi pengalaman. Gestur kecil dan konsistensi mereka—mulai mempelajari siklus tubuh, hingga renewal vows pada tahun ke-10 pernikahan—menjadi bukti bagaimana cinta sadar terus dipelajari sepanjang hidup.
Para peserta kemudian menikmati soto Betawi, salah satu favorit Habibie, di ruang Pendopo yang hangat dengan dominasi kayu, tempat biasa resepsi dan prosesi akad. Sesi berikutnya kembali intim: mendengar dengan penuh perhatian, melakukan sentuhan yang memicu hormon endorfin, dan berbagi slow dance yang memperkuat koneksi pasangan.

Pernikahan, pada akhirnya, adalah kesadaran yang terus dipelajari. Ia lebih dari sekadar perasaan; ia adalah seni merawat cinta sepanjang hayat.