by Novi Nadya | 14 Jan 2026
Daftar notifikasi muncul di layar ponsel Rinaldy Yunardi. Salah satunya berasal dari Paris Hilton, yang menandai namanya di Instagram. Namun derasnya mention yang datang silih berganti membuat waktu 24 jam berlalu begitu saja—dan unggahan Paris pun menghilang.
Momen semacam ini kini menjadi bagian dalam keseharian Yungyung, sapaan akrabnya. Lalu, apakah rasanya memang sesantai itu ketika ditandai selebritas internasional sekarang? Atau karena begitu banyak nama kelas dunia telah mengenakan karyanya, semua itu kini terasa lumrah?

Madonna menjadi penggemar aksesori Rinaldy Yunardi
Sebut saja Madonna, Lady Gaga, Ariana Grande, hingga Kylie Jenner. Tahun 2026 ini, Rinaldy Yunardi menandai 30 tahun berkarya. Sebuah perjalanan panjang yang bukan hanya soal waktu, melainkan rangkaian ujian—tentang intuisi, ketepatan, dan keberanian mengambil keputusan dalam sunyi.
Humble tanpa dibuat-buat, tutur kata dan gesturnya tetap membumi, meski karyanya telah melangit dan melintasi panggung dunia. Begitu yang selalu dirasakan Le Mariage saat berbincang dengan Rinaldy Yunardi, kali ini tentang tiga dekade berkarya, ujian naik kelas, sampai makna mahkota dalam pernikahan hari ini.

Rinaldy Yunardi dan Kylie Jenner memakai mahkota rancangan maestro aksesori Indonesia
Le Mariage: Ko Yung, belakangan lini masa Anda ramai dengan mention selebritas dunia. Lalu, belum lama ini Kylie Jenner kembali mengenakan crown karya Anda. Apakah rasanya kini sudah biasa?
Rinaldy Yunardi: Enggak pernah biasa. Karena, setiap proyek dengan selebritas luar hampir selalu rahasia, tidak ada clue, tidak ada hint. Jadi saat akhirnya karya itu dipakai, rasanya seperti lulus ujian dan naik kelas. Perasaan itu selalu sama.
Le Mariage: Berarti proses dan pendekatannya tetap mengandalkan kebebasan dan imajinasi Anda sebagai desainer?
Rinaldy Yunardi: Iya. Saya dari dulu terus-menerus membuat tiara untuk pengantin. Jadi refleks berpikir saya memang ke arah itu—bagaimana menciptakan sesuatu yang tepat sasaran. Saat akhirnya berhasil, di situ saya merasa lulus.
Le Mariage: Jadi rasanya tetap spesial, meski sudah banyak figur global mengenakan karya Anda?
Rinaldy Yunardi: Sangat spesial. Senang dan bahagia, karena itu pencapaian. Kesempatan seperti ini sulit didapatkan, dan tentu saya berharap kesempatan itu terus datang.
Le Mariage: Untuk Kylie Jenner, ini sudah kali keempat, ya?
Rinaldy Yunardi: Iya. Yang pertama tiara untuk pemotretan, kedua aksesori yang membingkai wajah, ketiga kuping kelinci, dan ini yang keempat—berbeda. Ini crown yang benar-benar bulat. Kalau tiara biasanya melingkar ke belakang, crown ini utuh.
Le Mariage: Kalau kita mundur ke awal prosesnya, seperti apa brief waktu itu?
Rinaldy Yunardi: Clue-nya hanya dua: crown dan warna hitam. Sisanya kebebasan. Dari situ saya mulai membaca, melihat, mempelajari. Apakah arahnya gothic, victorian, seberapa besar, dipakai di kening atau tidak. Tapi saya tahu satu hal—Kylie glamor dan seksi, tapi harus tetap cantik. Jadi saya tidak mau crown menutup wajahnya.
Le Mariage: Dari mana biasanya inspirasi paling sering datang?
Rinaldy Yunardi: Bisa dari mana saja, tapi paling nyaman saat saya berada di kamar. Untuk Kylie, saya berpikir bagaimana menghadirkan sisi gelap yang glamor—hitam, tapi tetap berkilau.
Le Mariage: Sebelumnya pernah membuat crown seperti ini?
Rinaldy Yunardi: Pernah. Di pernikahan Chelsea Olivia, lalu versi yang lebih kecil lagi saat putri Chelsea lahir dan untuk pemotretan ibu-anak.
Atribut dan Apresiasi Sang Ratu Sehari

Tiara bridal pengantin modern rancangan Rinaldy Yunardi
Le Mariage: Nama Anda sudah lama menjadi rujukan dalam dunia tiara dan bridal. Bagaimana Anda melihat pengantin hari ini?
Rinaldy Yunardi: Pengantin hari ini sangat luas. Semuanya kembali ke calon pengantinnya. Apa atribut utamanya? Gaun. Begitu juga tiara—sebagai simbol seorang princess di hari H. Itu bentuk apresiasi dari orangtua dan siapa pun yang hadir. Ratu sehari, seumur hidup sekali.
Le Mariage: Apakah ukuran tiara masih jadi penekanan?
Rinaldy Yunardi: Tidak harus besar. Mau besar, kecil, bando—silakan. Yang penting dipakai. Seumur hidup sekali, dan hari itu kamu adalah pengantinnya.
Le Mariage: Bagaimana dengan perubahan desain dari waktu ke waktu?
Rinaldy Yunardi: Tidak signifikan. Detailnya tetap akar, bunga, ranting, hanya batun dan kristalnya yang modern—Saya juga tidak mengejar tren. Crown pengantin itu harus abadi. Difoto hari ini, dilihat bertahun-tahun kemudian, tetap harus relevan. Sekarang mungkin detailnya lebih kecil, lebih halus, dan lebih sulit tekniknya.
Le Mariage: Pernahkah Anda merasa lelah—tiga puluh tahun bekerja tanpa henti? Di generasi sekarang ada istilah self-love, self-care. Bagaimana dengan Ko Yung?
Rinaldy Yunardi: Tidak pernah terpikir seperti itu. Bagi generasi kami, bekerja justru bagian dari refreshing. Kalau ingin menyegarkan pikiran, saya malah melihat-lihat inspirasi untuk kembali bekerja. Tidak bekerja justru terasa tidak enak.
Le Mariage: Ada pesan untuk generasi penerus yang ingin menekuni bidang yang sama?
Rinaldy Yunardi: Kesuksesan tidak datang secara instan. Ada yang terlihat cepat, tapi yang benar-benar teruji oleh waktu justru lahir dari proses yang panjang. Konsistensi, ketekunan, dan kesabaran itu yang membangun fondasi.
Tiga puluh tahun berjalan, Rinaldy Yunardi tidak banyak bergeser dari titik berangkatnya. Ia bekerja dengan ketekukan yang sama, membaca intuisi dalam sunyi, dan memilih jalur yang sering kali tidak paling riuh.
Dan di tengah industri yang bergerak cepat dan mudah terpesona oleh hasil instan, ia mengambil tempo yang berbeda. Karyanya tumbuh pelan, presisi, dan bertahan.
Setiap karya lahir dari pemikiran dan setiap proses selalu membawa ujian berikutnya. Tiga dekade berlalu, dan ia masih memilih untuk mengerjakannya dengan cara yang sama.