by Novi Nadya | 07 Apr 2026
Jejak Art Jakarta Papers 2026 sebenarnya sudah muncul lebih dulu di Art Jakarta tahun lalu. Sebidang merah yang menonjol, muncul di tengah pameran dan di pintu keluar—disertai kalimat singkat: see you at Art Jakarta Papers.
Beberapa waktu kemudian, warna merah yang sama persis itu kembali. Pintu merah di City Hall Pondok Indah Mall 3 menyambut pengunjung sebelum masuk ke ruang yang terasa kontras—lebih tenang, hampir seluruhnya putih. Tidak banyak distraksi. Perhatian langsung jatuh pada karya, dan cara orang melihatnya.


Edisi perdana Art Jakarta Papers 2026 menghadirkan 28 galeri selama empat hari. Semua berangkat dari medium yang sama: kertas. Formatnya sederhana, tapi justru itu yang terasa berbeda. Mengeksplorasi detail jadi lebih mudah terbaca—garis, tekstur sampai hal-hal kecil yang biasanya terlewat.
Orang-orang terlihat berjalan lebih pelan. Ada yang kembali ke karya yang sama setelah berkeliling, seolah butuh melihatnya sekali lagi sebelum benar-benar berlalu.


Di antara itu, terlihat pasangan-pasangan muda yang datang tanpa banyak rencana. Hanya ingin melihat, lalu mulai berdiskusi kecil di depan karya. Bagi sebagian, kertas terasa lebih dekat—tidak terlalu jauh untuk dibayangkan hadir di rumah.
Andreas dan Shendy, misalnya, datang di tengah persiapan pernikahan mereka. Andreas yang punya latar seni memperkenalkan satu hal sederhana: karya tidak selalu harus hadir di atas kanvas. Kertas, katanya, justru menyimpan kedekatan yang berbeda. Dari situ, percakapan mereka berkembang—bahkan sampai pada ide menjadikan karya seni sebagai bagian dari seserahan.
Di sisi lain, Cynthia Ganesha juga terlihat menyusuri beberapa booth dengan cukup serius. Ia mulai menandai karya-karya yang ingin dibawa pulang—sebagian bahkan dipikirkan untuk anak-anaknya.
Angka pengunjungnya sendiri melampaui lebih dari 9.000 orang. Cukup solid untuk edisi pertama. Namun yang terasa justru bukan soal jumlah, melainkan siapa yang datang. Banyak yang tampak baru—masih melihat, masih mencoba memahami.
“Karakter kertas yang ringan membuat masyarakat yang baru mengenal dunia seni tidak terlalu ragu untuk memulai percakapan dengan kami,” ujar Dhira Dwinanda—sesuatu yang terasa sepanjang pameran, dengan banyaknya pengunjung yang datang tanpa banyak jarak.

Di dalam ruang yang sama, skala karya juga tidak selalu kecil. Iwan Effendi menghadirkan patung boneka monumental setinggi lebih dari dua meter—dibuat dari kertas, namun tetap terasa ringan secara visual. Sementara Ruang MES 56 membuka lokakarya cyanotype, mengajak pengunjung mencoba langsung proses yang biasanya hanya dilihat dari jauh.

Beberapa presentasi juga membawa pendekatan yang lebih interaktif. Di myBCA Space, instalasi Rudy Atjeh perlahan berubah sepanjang pameran. Origami yang digantung pengunjung menumpuk sedikit demi sedikit—membuat karya itu tidak pernah benar-benar selesai.

Di sudut lain, pendekatan yang berbeda muncul melalui presentasi Naufal Abshar di Sucor AM Corner. Enam pion catur diterjemahkan ke dalam bentuk patung papier-mâché—membawa metafora strategi dalam bahasa yang lebih ringan dan mudah diakses. Pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga terlibat, duduk dan bermain, menciptakan percakapan yang bergerak di antara karya dan pengalaman.
Beberapa karya lain hadir lebih tenang, nyaris tanpa narasi yang eksplisit. Di situlah praktik seperti yang dibawa oleh EDISII terasa berbeda—mengajak pengunjung untuk kembali pada hal yang paling dasar: melihat, tanpa banyak penjelasan.


Seperti yang disampaikan Enin Supriyanto, ini bukan soal harga yang lebih rendah, tetapi tentang bagaimana karya bisa terasa lebih mudah didekati. Sebuah awal, mungkin, bagi mereka yang belum pernah benar-benar mempertimbangkan untuk memiliki.


Dan mungkin itu yang terasa paling tinggal. Bukan keputusan besar, bukan juga euforia. Lebih seperti jeda kecil—ketika seseorang berhenti sedikit lebih lama di satu karya, lalu mulai berpikir: mungkin ini bisa jadi awal.