Website Wedding Indonesia | Le Mariage Indonesia

Telusuri Sejarah Cincin Tunangan | Le Mariage Indonesia
Ilustrasi

Ilustrasi

Ilustrasi

Ilustrasi

Ilustrasi

Ilustrasi

Ilustrasi

Ilustrasi

Ilustrasi

Ilustrasi

Telusuri Sejarah Cincin Tunangan

by RMF | 02 Nov 2021

Para antropologis percaya tradisi engagement ring atau cincin pertunangan muncul di kalangan sosial menengah Zaman Romawi (Roman Custom). Menurut cerita wanita yang sudah menikah akan mengenakan cincin bertautkan kunci kecil, yang mana kunci tersebut merupakan simbolisasi dari kepunyaan suami.

Tren penggunaan berlian sebagai engagement ring sendiri di kalangan aristokrat dan bangsawan Eropa dipopulerkan oleh Archduke Maximillian saat melamar Mary of Burgundy di tahun 1477. Kemudian tren ini terus berlanjut dan berkembang di Era Victorian, Edwardian, dan dunia.

Sebelum abad ke 18 berlian masih tergolong sebagai bebatuan yang sangat mahal dan langka, hanya orang-orang dari kalangan tertentu yang mampu menikmati keindahan berlian. Kebanyakan berlian pada saat itu berasal dari Amerika Selatan, yang diperjual-belikan untuk kemudian dijadikan perhiasan wanita. Hingga akhirnya di tahun 1870 ditemukan beberapa tambang berlian di Afrika Selatan dan menjadikan berlian yang sebelumnya not for everyone menjadi for anyone who can afford it.

The Great Depression yang menimpa Amerika di tahun 1930-an mengakibatkan merosotnya permintaan atas berlian. Alhasil, The De Beers Company, pemilik beberapa tambang berlian di Afrika Selatan melakukan kampanye marketing besar-besaran menggunakan foto artis-artis film terkenal berbalutkan berlian untuk menunjukkan ke-glamora-an berlian. Dalam kurun waktu 3 tahun penjualan mereka meningkat hingga 50%. Kemudian di tahun 1947 mereka kembali meluncurkan kampanye slogan klasik mereka “Diamond is forever” yang tidak kalah sukses dengan marketing sebelumnya. Dampaknya di kehidupan sekarang?

We know from tradition that diamonds are girl’s best friend!

 

Sumber : americangemsociety dan cbsnews