by RMF | 02 Nov 2021
Para antropologis percaya tradisi engagement ring
atau cincin pertunangan muncul di kalangan sosial menengah Zaman Romawi (Roman
Custom). Menurut cerita wanita yang sudah menikah akan mengenakan cincin
bertautkan kunci kecil, yang mana kunci tersebut merupakan simbolisasi dari
kepunyaan suami.
Tren penggunaan berlian sebagai engagement ring
sendiri di kalangan aristokrat dan bangsawan Eropa dipopulerkan oleh Archduke
Maximillian saat melamar Mary of Burgundy di tahun 1477. Kemudian tren ini
terus berlanjut dan berkembang di Era Victorian, Edwardian, dan dunia.
Sebelum abad ke 18 berlian masih tergolong sebagai bebatuan
yang sangat mahal dan langka, hanya orang-orang dari kalangan tertentu yang
mampu menikmati keindahan berlian. Kebanyakan berlian pada saat itu berasal
dari Amerika Selatan, yang diperjual-belikan untuk kemudian dijadikan perhiasan
wanita. Hingga akhirnya di tahun 1870 ditemukan beberapa tambang berlian di
Afrika Selatan dan menjadikan berlian yang sebelumnya not for everyone
menjadi for anyone who can afford it.
The Great Depression yang menimpa Amerika di tahun 1930-an
mengakibatkan merosotnya permintaan atas berlian. Alhasil, The De Beers
Company, pemilik beberapa tambang berlian di Afrika Selatan melakukan kampanye
marketing besar-besaran menggunakan foto artis-artis film terkenal berbalutkan
berlian untuk menunjukkan ke-glamora-an berlian. Dalam kurun waktu 3 tahun penjualan
mereka meningkat hingga 50%. Kemudian di tahun 1947 mereka kembali meluncurkan
kampanye slogan klasik mereka “Diamond is forever” yang tidak kalah
sukses dengan marketing sebelumnya. Dampaknya di kehidupan sekarang?
We know from tradition that diamonds are girl’s best
friend!
Sumber : americangemsociety dan cbsnews