by Novi Nadya | 05 Feb 2026
Nila Baharuddin mempresentasikan sebuah ruang ingatan dalam Whisper of Elegance. Berlatar lanskap yang menyerupai kawasan istana kekaisaran Jepang, dengan ambience alunan musik tradisional yang lirih, presentasi ini menciptakan atmosfer yang membawa kita masuk lebih dalam—sebagaimana perjalanan Nila Baharuddin yang selama 16 tahun hidup dan berproses di Jepang.
Figur seorang pria dan perempuan hadir di awal, membawa elemen-elemen yang merepresentasikan Jepang—bukan sebagai kostum, melainkan sebagai simbol. Kimono, lipatan origami, makramé, hingga kilau warna dan motif menyerupai lukisan hadir sebagai bahasa visual yang tenang namun tegas. Sebuah penghormatan bagi negeri yang membentuk cara pandang sang desainer.

Dalam bahasa Jepang, koleksi ini bertajuk Yūga no Sasayaki. Sebanyak 50 look bergerak dalam tempo yang terjaga, menandai presentasi tunggal pertama Nila Baharuddin di panggung HANGER—persembahan Majalah CLARA—yang berlangsung di Raffles Hotel Jakarta pada akhir tahun lalu.
Nila dikenal lewat permainan pola dan konstruksi yang berani—nyaris akrobatik—namun selalu terkontrol. Setiap potongan hadir dengan pernyataan yang jelas, tanpa kehilangan sisi aplikatif. Busana-busana ini tidak berhenti di ranah konseptual; ia bergerak luwes dari keseharian hingga perayaan, dari personal hingga seremonial.

Aksesori obi dan bustier, yang kerap menjadi ciri khasnya, tampil dalam motif lukisan khas Jepang dengan palet warna vibrant dan potongan asimetris yang penuh twist. Ragam outerwear memperlihatkan eksplorasi ornamen kerah dan detail lengan yang kaya, dipertegas oleh motif garis berwarna yang menarik mata.
Eksplorasi siluet berlanjut pada rok gelembung berpotongan balon—avant-garde namun tetap elegan—sebagai penanda lain dari bahasa desain Nila. Maxi skirt dengan permainan drapery hadir dalam berbagai pendekatan styling: dipadukan dengan obi, layer bertumpuk, pleats, hingga kantung asimetris.

Koleksi pria mencuri perhatian lewat pendekatan yang sama matang dan eksperimental. Potongan jas dengan kerah kimono diolah dengan liukan yang segar, memperlihatkan kreativitas tanpa kehilangan ketajaman struktur. Celana panjang hadir dengan aksen kain lebar menyerupai skirt, atau jas dengan potongan cropped di bagian belakang—detail yang terasa berani, namun tetap presisi.

Salah satu momen berkesan hadir melalui kolaborasi dengan seniman lukis Zita Nuella. Sebuah gaun dengan lengan exaggerated tampil sebagai kanvas berjalan, mempertemukan tekstil dan seni lukis dalam satu wujud. Aktris senior Meriam Bellina turut berjalan, mengenakan kimono crop dengan detail origami dan aksen pita di bagian belakang pinggang, dipadukan dengan rok drapery berwarna iridescent—warna yang berubah mengikuti cahaya, memberi efek hidup dan dinamis.

Muse lainnya, Tanayu, tampil dalam set berwarna pink dengan potongan accordion pleats dan lengan gelembung, siluet yang memperkuat kesan arsitektural koleksi ini. Ia juga mengenakan set kemeja ruched dan baby doll dengan aksen transparan di bagian belakang, menciptakan ilusi seperti seni tato di punggung.
Kekayaan material menjadi benang merah lain dalam presentasi ini. Nila menggabungkan beragam fabric, dari jacquard hingga satin, yang berdampingan dengan gaun lukis tangan karya Zita Nuella. Perpaduan medium tekstil dan seni visual ini menegaskan bahwa Whisper of Elegance melampaui format fashion show, hadir sebagai presentasi seni dan budaya—sebuah pengalaman yang menyatukan busana, visual, dan narasi dalam satu kesatuan utuh.

Pendekatan ini tercermin pula pada busana yang dikenakan Nila Baharuddin saat finale: blouse berpotongan beskap dengan permainan color block—motif dan polos—dipadukan dengan layer renda transparan asimetris. Gaya layering yang kini digemari generasi Z ini hadir bukan sebagai upaya mengikuti tren, melainkan sebagai bagian dari visi desain yang konsisten. Seorang desainer, pada akhirnya, tidak mengejar tren, melainkan menciptakannya.
Presentasi ini didukung oleh para kolaborator yang memperkuat kualitas keseluruhan pengalaman, termasuk Andin Make Up Artist sebagai Beauty Director, House of ULTIMA II dan ULTIMA, sepatu oleh POSU, serta aksesori oleh Rumme.
Melalui Whisper of Elegance, Nila Baharuddin menandai sebuah fase penting dalam perjalanan kreatifnya. Sebuah tonggak yang dirayakan di HANGER 2025—ruang di mana mode, seni, dan budaya bertemu, dan berbicara pelan, namun meninggalkan jejak yang panjang.